Saturday, October 11, 2008

rumah jiwa ku

Sementara ragaku berebut makanan di tempat sampah
Jiwaku berteduh di bawah sekelompok semak Cantigi
Mereka membiusku dengan dingin dan angin dan hujan
mengalihkan semua indera dan kesadaranku

Kakiku seakan bermain air situ patengan
Tanganku menjangkau mega gunung patuha
Nafasku menghirup harum teh rancabali
Telingaku menikmati deru kawah ratu yang bergolak
Yang kukecap lewat lidahku hanyalah air sungai dingin
yang mengalir dari puncak salak, turun sebagai air terjun curug sewu
Mataku tak melihat pengaturan, hanya alam, yang menjadi dirinya sendiri
Maka kurasakan kesemuanya seperti kelaparan
Maka..
Harapanku menjadi seluas padang surya kencana
Hanya edelweiss yang boleh menuntun langkahku
Melewati lumut-lumut yang hidup di permukaan batu
Dan angin yang tidak menusuk, namun membungkus erat
Dinginnya kehangatan tidak akan membekukan

Tidak mau pulang
Ke mana pulang?
Ini rumah jiwa ku
Di bawah semak cantigi

1 Comments:

At 24 October, 2008 01:07 , Blogger tan_intan said...

wow.. jadi pengen nulis lagi.. heheh..

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home